Lompat ke konten
Beranda » Artikel » Angka Inflasi Membaik, Tapi Apa yang Terjadi di Dompet Masyarakat?

Angka Inflasi Membaik, Tapi Apa yang Terjadi di Dompet Masyarakat?

  • oleh

Dampak inflasi ke dompet masyarakat tidak selalu terlihat dari satu angka inflasi nasional. BPS mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan, sedangkan inflasi inti berada di 2,76%. Secara bulanan, harga konsumen juga naik 0,44%.

Sekilas, angka tersebut terlihat cukup terkendali. Namun, masyarakat tetap bisa merasa pengeluaran sehari-hari semakin berat.

Mengapa bisa begitu?

Karena inflasi menggambarkan kecepatan kenaikan harga, bukan berarti harga barang kembali ke tingkat sebelumnya.

Inflasi Turun Bukan Berarti Harga Turun

Ini bagian paling penting untuk dipahami.

Ketika inflasi melambat, harga barang sebenarnya masih bisa naik. Hanya saja, kenaikannya berlangsung lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya.

Misalnya, sebuah kebutuhan rumah tangga naik dari Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu. Setelah itu, harganya naik lagi menjadi Rp112 ribu.

Kenaikan dari Rp110 ribu ke Rp112 ribu memang lebih kecil. Namun, konsumen tetap membayar lebih mahal dibandingkan sebelumnya.

Karena itu, masyarakat tidak bisa menggunakan angka inflasi sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai kondisi dompet.

Pengeluaran Setiap Keluarga Berbeda

Selain itu, pola belanja setiap keluarga ikut menentukan seberapa besar inflasi terasa.

Baca Juga :  Karpet Masjid Custom untuk Masjid: Apa yang Harus Diperhatikan?

Keluarga yang menghabiskan sebagian besar pendapatan untuk makanan tentu lebih sensitif terhadap perubahan harga pangan. Sebaliknya, keluarga yang lebih banyak mengeluarkan uang untuk pendidikan, transportasi, atau perumahan akan merasakan perubahan harga pada kelompok tersebut.

BPS sendiri mencatat perubahan harga berbagai kelompok barang dan jasa dalam Indeks Harga Konsumen. Karena itu, angka inflasi nasional merupakan gambaran rata-rata, bukan tagihan yang berlaku sama untuk setiap rumah tangga.

Jadi, pengalaman masyarakat bisa berbeda meskipun mereka hidup dalam kondisi inflasi nasional yang sama.

Harga Pangan Tetap Menjadi Perhatian

Pangan memiliki pengaruh besar terhadap persepsi masyarakat mengenai biaya hidup.

Ketika harga beras, telur, daging, minyak goreng, atau kebutuhan dapur lainnya meningkat, konsumen langsung merasakan dampaknya ketika berbelanja.

Data BPS menunjukkan harga beras premium di tingkat penggilingan mencapai rata-rata Rp14.815 per kilogram pada Juni 2026. Harga tersebut naik 1,01% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, beras medium mencapai Rp13.525 per kilogram dan naik 0,92%.

Kenaikan seperti ini mungkin terlihat kecil dalam persentase. Namun, rumah tangga yang membeli kebutuhan tersebut secara rutin akan langsung memasukkannya ke dalam pengeluaran bulanan.

Biaya Transportasi Juga Bisa Mengubah Anggaran

Selanjutnya, masyarakat perlu memperhatikan biaya transportasi.

Ketika harga bahan bakar, tiket perjalanan, atau biaya transportasi meningkat, rumah tangga tidak hanya membayar lebih mahal ketika bepergian. Biaya distribusi barang juga dapat ikut berubah.

Pedagang membutuhkan kendaraan untuk mengangkut produk. Perusahaan membutuhkan transportasi untuk mengirim barang. Bahkan pekerja membutuhkan biaya perjalanan untuk pergi dan pulang dari tempat kerja.

Baca Juga :  Mempercantik Ruangan dengan Karpet Turki

Karena itu, perubahan biaya transportasi dapat menyebar ke berbagai bagian pengeluaran rumah tangga.

Pendapatan Menentukan Seberapa Berat Inflasi Terasa

Namun, ada faktor lain yang sering luput dari pembahasan, yaitu pendapatan.

Kenaikan harga sebesar 3% akan terasa berbeda bagi orang yang pendapatannya naik 6% dibandingkan orang yang pendapatannya tidak berubah.

Jika pendapatan tumbuh lebih cepat daripada pengeluaran, daya beli dapat tetap terjaga. Sebaliknya, jika pendapatan stagnan sementara kebutuhan terus naik, masyarakat akan merasa ruang keuangannya semakin sempit.

Inilah sebabnya angka inflasi yang terkendali belum otomatis membuat semua rumah tangga merasa lebih sejahtera.

Ada Perbedaan antara Inflasi dan Daya Beli

Inflasi menjawab pertanyaan:

Seberapa cepat harga barang dan jasa berubah?

Sementara itu, daya beli menjawab pertanyaan:

Seberapa banyak barang dan jasa yang mampu dibeli dengan pendapatan yang tersedia?

Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak sama.

Jika harga naik sementara pendapatan tidak ikut meningkat, kemampuan membeli barang dapat menurun. Sebaliknya, kenaikan pendapatan dapat membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga.

Karena itu, untuk melihat kondisi ekonomi masyarakat secara lebih utuh, kita perlu melihat harga sekaligus pendapatan.

Mengapa Dompet Bisa Terasa Lebih Berat?

Ada beberapa alasan yang menjelaskan kondisi tersebut:

  • Harga kebutuhan tertentu tetap naik meskipun inflasi nasional terkendali.
  • Setiap keluarga memiliki pola konsumsi berbeda.
  • Pendapatan tidak selalu naik secepat biaya hidup.
  • Biaya transportasi dapat memengaruhi harga barang lain.
  • Kenaikan harga yang terjadi berulang kali meninggalkan level harga yang lebih tinggi.
Baca Juga :  AI Bisa Mendorong Ekonomi Indonesia, Tapi Apa yang Harus Diubah Lebih Dulu?

Selain itu, masyarakat biasanya lebih cepat menyadari kenaikan harga barang yang mereka beli setiap hari.

Karena itu, pengalaman berbelanja bisa terasa lebih nyata dibandingkan angka inflasi nasional.

Apa yang Perlu Dilakukan Rumah Tangga?

Masyarakat tidak perlu langsung mengurangi semua pengeluaran ketika melihat angka inflasi meningkat.

Sebaliknya, langkah pertama adalah melihat ke mana uang paling banyak mengalir.

Coba kelompokkan pengeluaran menjadi kebutuhan pokok, transportasi, tagihan rutin, hiburan, dan belanja yang bisa ditunda. Setelah itu, bandingkan perubahan setiap kelompok dari bulan ke bulan.

Dengan cara tersebut, keluarga bisa menemukan sumber tekanan terbesar pada anggaran.

Fokus pada Pengeluaran yang Paling Sering Naik

Tidak semua pengeluaran membutuhkan perhatian yang sama.

Jika biaya makanan meningkat, misalnya, keluarga dapat membandingkan harga beberapa toko atau menyesuaikan menu tanpa mengorbankan kebutuhan nutrisi.

Sementara itu, jika biaya transportasi menjadi masalah utama, keluarga bisa mengevaluasi rute, frekuensi perjalanan, atau penggunaan transportasi umum.

Langkah kecil seperti ini lebih efektif daripada sekadar mengurangi semua pengeluaran secara acak.

Angka Inflasi Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Cerita

Inflasi Indonesia pada Juni 2026 menunjukkan bahwa tekanan harga masih berlangsung. Inflasi tahunan mencapai 3,34%, sedangkan inflasi inti berada di 2,76%.

Namun, masyarakat tidak hidup berdasarkan angka statistik. Mereka membayar beras, bensin, listrik, ongkos perjalanan, makanan, pendidikan, dan berbagai kebutuhan lain setiap bulan.

Karena itu, dampak inflasi ke dompet masyarakat akan selalu bergantung pada kombinasi antara harga, pola konsumsi, dan pertumbuhan pendapatan.

Inflasi yang terkendali tentu menjadi kabar baik. Namun, pemerintah dan masyarakat tetap perlu melihat apakah perbaikan angka tersebut benar-benar ikut memperbaiki ruang belanja rumah tangga.

Pada akhirnya, ekonomi yang sehat bukan hanya tentang inflasi yang rendah. Yang lebih penting, masyarakat harus memiliki kemampuan membeli kebutuhan hidup tanpa terus merasa tertekan oleh kenaikan biaya.