Daftar Isi
Posisi Indonesia dalam perdagangan global menjadi semakin penting ketika pola perdagangan dunia mulai berubah. Negara-negara kini tidak hanya mengejar biaya produksi murah, tetapi juga mempertimbangkan keamanan pasokan, kedekatan pasar, dan risiko geopolitik.
Perubahan tersebut membuka peluang bagi Indonesia. Namun, peluang itu tidak otomatis berubah menjadi keuntungan. Indonesia tetap perlu memperkuat industri, memperluas pasar ekspor, dan mengurangi ketergantungan pada beberapa jenis impor strategis.
Perdagangan Dunia Tidak Lagi Sebebas Dulu

Selama bertahun-tahun, perusahaan membangun rantai pasok berdasarkan efisiensi. Mereka memilih lokasi produksi yang menawarkan biaya rendah dan akses pasar yang baik.
Namun, ketegangan geopolitik dan perubahan kebijakan perdagangan mendorong perusahaan melakukan diversifikasi. Akibatnya, banyak perusahaan mulai mencari pemasok dari beberapa negara sekaligus.
Kondisi tersebut menciptakan peluang bagi negara yang mampu menyediakan bahan baku, tenaga kerja, infrastruktur, dan kepastian bisnis secara bersamaan.
Indonesia memiliki sebagian dari kebutuhan tersebut. Karena itu, perubahan rantai pasok global dapat menjadi peluang yang cukup besar.
Indonesia Masih Punya Modal Besar
Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang beragam, dan basis industri yang terus berkembang.
Selain itu, lokasi Indonesia memberi akses ke jalur perdagangan Asia. Posisi tersebut membuat Indonesia menarik bagi perusahaan yang ingin mendekatkan produksi ke pasar Asia.
Di sisi ekspor, perdagangan nonmigas juga masih memberikan kontribusi kuat. Bank Indonesia mencatat ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 mencapai sekitar US$22,44 miliar dan tetap menghasilkan surplus US$2,15 miliar pada bulan tersebut.
Dengan demikian, Indonesia masih memiliki fondasi perdagangan yang cukup kuat.
Tetapi Indonesia Belum Bisa Terlalu Nyaman
Meski peluang terbuka, Indonesia juga menghadapi tantangan dari sisi impor.
BPS mencatat ekspor Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar dan tumbuh 3,02% secara tahunan. Namun, impor tumbuh jauh lebih cepat hingga 15,24% dan mencapai US$111,33 miliar.
Kondisi tersebut membuat surplus perdagangan kumulatif tetap ada, tetapi ruangnya semakin terbatas.
Pada Mei 2026, Indonesia bahkan mencatat defisit perdagangan US$1,61 miliar. Defisit tersebut terutama muncul dari perdagangan migas, sementara sektor nonmigas masih membukukan surplus.
Jadi, persoalan Indonesia bukan sekadar meningkatkan ekspor. Indonesia juga perlu memastikan struktur impornya mendukung produktivitas ekonomi.
Ketergantungan Migas Masih Menjadi Tantangan
Salah satu titik yang perlu diperhatikan adalah perdagangan energi.
Pada Januari–Mei 2026, sektor nonmigas menghasilkan surplus US$16,31 miliar. Sebaliknya, sektor migas mencatat defisit US$12,28 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa surplus nonmigas masih harus menutup sebagian besar tekanan dari sektor migas.
Karena itu, perubahan harga energi global dapat memengaruhi posisi perdagangan Indonesia dengan cepat. Ketika harga energi naik atau impor energi meningkat, biaya yang harus dibayar Indonesia juga dapat bertambah.
Peluang Terbesar Ada pada Hilirisasi
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah pola perdagangan melalui hilirisasi.
Selama ini, Indonesia banyak mengekspor komoditas dan produk berbasis sumber daya alam. Namun, negara dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar jika proses pengolahan berlangsung lebih jauh di dalam negeri.
Dengan demikian, Indonesia dapat menjual produk dengan nilai tambah lebih tinggi, bukan sekadar menjual bahan mentah.
Strategi tersebut juga dapat menciptakan rantai industri baru. Ketika fasilitas pengolahan berkembang, industri pendukung, logistik, jasa, dan tenaga kerja ikut memperoleh manfaat.
Indonesia Juga Perlu Memperluas Pasar
Ketergantungan pada beberapa tujuan ekspor dapat meningkatkan risiko ketika kondisi ekonomi negara tersebut berubah.
Bank Indonesia mencatat Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor nonmigas Indonesia.
Karena itu, Indonesia perlu terus memperluas pasar.
Diversifikasi pasar tidak berarti meninggalkan pasar utama. Sebaliknya, Indonesia dapat mempertahankan pasar yang sudah kuat sambil mencari tujuan baru untuk produk manufaktur, pangan olahan, komponen industri, dan produk digital.
Dengan pendekatan tersebut, perubahan permintaan di satu negara tidak langsung mengguncang keseluruhan ekspor.
Rantai Pasok Baru Bisa Menjadi Peluang UMKM
Perubahan perdagangan global juga tidak hanya menguntungkan perusahaan besar.
UMKM dapat masuk ke rantai pasok sebagai pemasok komponen, kemasan, makanan olahan, jasa logistik, maupun layanan pendukung lainnya.
Namun, pelaku UMKM perlu meningkatkan beberapa kemampuan.
- Menjaga kualitas produk.
- Memenuhi standar industri.
- Menjamin kapasitas produksi.
- Mengelola administrasi.
- Memanfaatkan teknologi digital.
- Memahami kebutuhan pasar ekspor.
Jika kemampuan tersebut meningkat, UMKM dapat bergerak dari sekadar menjual langsung kepada konsumen menuju pemasok bagi perusahaan yang lebih besar.
Indonesia Perlu Memperkuat Ekosistem Devisa
Perubahan perdagangan juga mendorong pemerintah memperhatikan bagaimana hasil ekspor masuk dan berputar di dalam negeri.
Bank Indonesia menerbitkan PBI Nomor 5 Tahun 2026 yang berlaku mulai 1 Juni 2026 untuk menyesuaikan pengaturan Devisa Hasil Ekspor dan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan tidak hanya berkaitan dengan ekspor dan impor. Pemerintah juga perlu memastikan devisa hasil ekspor memberikan manfaat lebih besar bagi ketahanan eksternal dan perekonomian domestik.
Jadi, Apa Posisi Indonesia Sekarang?
Indonesia masih berada pada posisi yang cukup kuat, tetapi belum sepenuhnya aman.
Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik besar, basis manufaktur, dan hubungan perdagangan dengan berbagai negara. Selain itu, sektor nonmigas masih mampu menghasilkan surplus.
Namun, Indonesia tetap menghadapi ketergantungan impor energi, pertumbuhan impor yang cepat, serta persaingan mendapatkan investasi di tengah perubahan rantai pasok dunia.
Karena itu, posisi Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan negara mengubah keunggulan sumber daya menjadi keunggulan industri.
Kesimpulan
Posisi Indonesia dalam perdagangan global semakin strategis ketika dunia dagang mulai terbagi ke dalam jaringan yang lebih kompleks. Perusahaan mencari pemasok yang aman, sementara negara berlomba menarik investasi dan membangun industri domestik.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penerima manfaat perubahan tersebut. Namun, peluang itu membutuhkan industri bernilai tambah, pasar ekspor yang lebih beragam, rantai pasok yang kuat, dan ketahanan energi yang lebih baik.
Pada akhirnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi tempat mengambil bahan baku atau pasar bagi produk asing. Indonesia perlu menjadi bagian penting dari proses produksi global. Jika langkah tersebut berhasil, perubahan perdagangan dunia justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi internasional.

